Jakarta, — Ribuan buruh manufaktur turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa untuk menyuarakan tuntutan mereka terhadap pemerintah dan pihak perusahaan. Aksi ini dipicu oleh meningkatnya tekanan ekonomi terhadap pekerja, termasuk pemotongan pajak penghasilan (PPh) serta maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Para buruh yang tergabung dalam berbagai serikat pekerja menyuarakan sejumlah tuntutan utama, di antaranya penghapusan pajak penghasilan (PPh) bagi buruh, penghentian PHK massal, serta peningkatan kesejahteraan pekerja di sektor manufaktur.
Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan seperti “Hapus PPh untuk Buruh”, “Stop PHK Massal”, dan “Upah Layak untuk Semua Pekerja”. Mereka menilai kebijakan yang ada saat ini masih belum berpihak kepada pekerja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Salah satu perwakilan buruh menyatakan bahwa pemotongan pajak dari gaji pekerja sangat memberatkan, terutama bagi buruh dengan penghasilan minimum. Selain itu, gelombang PHK yang terjadi di sejumlah perusahaan dinilai semakin memperparah kondisi sosial ekonomi para pekerja.
“Aksi ini adalah bentuk perjuangan kami untuk mendapatkan keadilan. Kami ingin pemerintah hadir dan melindungi buruh, bukan justru membebani,” ujarnya.
Para buruh juga mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam melindungi tenaga kerja, termasuk memperketat regulasi terhadap perusahaan yang melakukan PHK sepihak.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan secara tertib. Massa berharap aspirasi mereka dapat segera ditindaklanjuti melalui kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan pekerja.